Transformasi Layanan Publik: E-Government Otonom di Era Kecerdasan Buatan.

JAKARTA, 17 November 2025 – Politeknik STIA LAN Jakarta menggelar bedah buku “E-Government di Era Artificial Intelligence” karya Dr. Yusuf Amrozi, S.T., M.MT., yang menyoroti kebutuhan mendesak akan layanan publik yang beroperasi 24 jam secara otonom. Acara ini menyoroti bagaimana Artificial Intelligence (AI) dapat mentransformasi tata kelola pemerintahan dan meningkatkan efisiensi pelayanan publik.

AI Sebagai Infrastruktur Baru Pemerintahan

Direktur Politeknik STIA LAN Jakarta, Prof. Dr. Nurliah Nurdin, MA., menyampaikan bahwa AI bukan lagi sekadar pilihan, melainkan infrastruktur krusial dalam tata kelola pemerintahan. Mengutip data global, Prof. Nurliah menyoroti posisi Indonesia dalam EGDI PBB yang berada di peringkat 77 dari 193 negara, serta Digital Government Maturity Index yang masih berada di level intermediate. Kerugian negara akibat korupsi yang mencapai puluhan triliun rupiah per tahun semakin menggarisbawahi urgensi pemanfaatan AI untuk efisiensi dan transparansi.

Tiga Kekuatan AI dalam E-Government

Prof. Nurliah menguraikan tiga kekuatan utama AI dalam meningkatkan kinerja birokrasi:

1. Mempercepat Layanan Publik: AI mampu memangkas waktu layanan secara signifikan, contohnya dalam pengelolaan data kependudukan dan perizinan.
2. Mengurangi Ruang Korupsi: AI menciptakan jejak digital yang transparan melalui sistem pengawasan otomatis dan analitik anti-fraud.
3. Mendukung Pengambilan Keputusan Berbasis Data: AI memungkinkan prediksi kebutuhan anggaran, pemetaan potensi kemiskinan, dan penyusunan kebijakan berbasis data.

Pemikiran Penulis Buku

Dr. Yusuf Amrozi menjelaskan bahwa buku ini ditulis sebagai respons terhadap tuntutan layanan publik yang mudah, cepat, dan murah, serta perubahan lingkungan strategis di era AI. Ia menekankan urgensi e-government dalam meningkatkan layanan publik, efisiensi birokrasi, dan adopsi AI dalam berbagai konteks pemerintahan.

Tantangan dan Agenda E-Government ke Depan

Dr. Yusuf mengidentifikasi sejumlah tantangan, termasuk kualitas layanan, infrastruktur, SDM, keamanan siber, regulasi, partisipasi publik, manajemen data, dan perencanaan strategis sistem informasi lintas pusat-daerah.

Pandangan Para Pembahas

Agus Eko Nugroho, Ph.D., menyoroti relevansi buku dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital dan mewujudkan good governance. Sementara itu, Dr. Alih Aji Nugroho, MPA., menyinggung pergeseran paradigma dari e-government ke e-governance serta potensi penggunaan AI dalam rekrutmen ASN berbasis meritokrasi.

Penutup: Menuju Pemerintahan Digital yang Adaptif dan Inovatif

Bedah buku ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa Politeknik STIA LAN Jakarta untuk menjadi aparatur yang kompeten, berintegritas, dan siap membawa Indonesia menuju era pemerintahan digital yang bersih, efisien, dan transparan. Dengan pemanfaatan AI yang tepat, layanan publik yang adaptif dan responsif bukan lagi sekadar impian, melainkan sebuah keniscayaan.*Imam Kusnin Ahmad*