
Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Secara logika sehat orang sombong itu tidak wajar, sebab begitu banyak kelemahan kita sebagai manusia. Tidak bisa menolak perjalanan waktu yang sekian banyak konsekwensinya. Diantaranya tidak bisa menolak pergantian pagi-siang-sore dst, tidak bisa menolak siklus air-uap-awan-hujan dst, tidak bisa menolak bayi-kanak2-remaja-dewasa-tua dst. Jadi sekali lagi orang sombong itu tidak wajar dan tidak masuk akal.
Ada ayat yang sangat jelas melarang orang sombong, QS Al-Isra’ (17: 37) yakni:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” Artikel ini menelaah bagaimana orang bisa sombong, padahal jelas dilarang.
Ayat ini memperjelas perintah Allah SWT untuk tidak bersikap sombong dan angkuh di muka bumi. Allah SWT mengingatkan manusia bahwa mereka tidak memiliki kemampuan untuk menembus bumi atau mencapai ketinggian gunung, sehingga tidak ada alasan untuk bersikap sombong.
Satu hal yang menarik adalah bagaimana ada saja orang yang sombong, apa yang mendorong sehingga berani sombong. Satu-satunya dugaan kuat adalah karena tidak bisa menolak ajakan syetan yang terkutuk itu. Syetan pertama mempraktekkan kesombongan adalah ketika diperantah Allah SWT untuk tunduk kepada Nabi Adam AS. Seharusnya orang mengerti bahwa sombong adalah dilarang dan itu ajakan syetan. InsyaAllah bila menyadari hal ini kita tidak akan sombong aamiin.
Ayat ini juga mengajarkan manusia untuk selalu bersikap rendah hati dan tidak merasa diri lebih baik dari orang lain. Allah SWT juga mengingatkan bahwa semua yang ada di bumi ini adalah milik-Nya, dan manusia hanya diberi amanah untuk menjaganya.
Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini juga menjelaskan bahwa Allah melarang manusia untuk bersikap sombong dan angkuh, karena hal itu dapat menyebabkan kerugian di dunia dan akhirat. Sebaliknya, Allah memerintahkan manusia untuk selalu bersikap rendah hati dan beriman kepada-Nya (Meta AI, 2025).
Memang menghilangkan sikap sampai dengan nol tanpa ada sombong sedikitpun itu sulit. Mari kita rasakan contoh kecil yang bisa kita gunakan untuk mengukur kesombongan kita. Ketika kita berjalan memakai pakaian rapi disetrika misalkan, merasakan berbeda penampilan dengan bila kita berpakaian tanpa disetrika. Maka beda rasa penampilan itu adalah ada unsur ekspresi kesombongan. Mari kita terapkan contoh kecil tersebut pada sikap-sikap yang lain kemudian kita gunakan untuk mengurangi kesombongan kita. Semoga bisa demikian aamiin.
Semoga manfaat barokah selamat aamiin.
🤲🤲🤲
Surabaya,
22 Jumadil Ula 1447
atau
14 November 2025
m.mustain
