
By Juwaini.
Tahun 1966, ayahnya Sukarno dikudeta dari kursi presiden RI.
Tahun 1967, ia dikeluarkan dari Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran karena nama ayahnya melekat dengan namanya.
Tahun 1970, Soeharto menolak permintaan keluarganya dalam prosesi pemakaman Sukarno yang menjadi keinginan sang proklamator dalam wasiatnya ingin di makamkan di Bogor namun dijauhkan ke Blitar Jawa Timur.
Tahun 1972, ia dikeluarkan dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia karena tekanan rezim Orde Baru.
Tahun 1973, partai yang didirikan Sukarno tahun 1927 sebagai alat politik kemerdekaan bernama Partai Nasional Indonesia (PNI) dipaksa bubar kemudian dileburkan lewat fusi partai.
Tahun 1975, kebijakan de-Sukarnoisasi atau meminggirkan warisan serta ingatan rakyat pada Sukarno digalakkan di masa Orde Baru.
Tahun 1993, rezim Orde Baru mengintervensi Kongres PDI yang memutuskan Megawati sebagai ketua umum PDI yang berakhir deadlock dan kacau.
Tahun 1996, peristiwa penyerangan di Kantor DPP PDI yang saat itu dikuasai oleh PDI-Megawati di tanggal 27 Juli 1996 (Peristiwa Kudatuli).
Tahun 1997, Rezim Orde Baru mengesahkan kepemimpinan PDI Soerjadi yang mengakibatkan Mega teralienasi dan terkucilkan dari politik.
Dari tahun 1966-1998, tiga kali Mega ditangkap dan diinterogasi oleh aparat. Pun selama masa Orde Baru hidupnya penuh dengan pengintaian aparat rezim Orde Baru.
Semua rasa sakit di masa Orde Baru telah dirasakan Mega. Ia adalah perempuan yang mempertaruhkan kepalanya menghadapi rezim otorianisme Orde Baru. Ia adalah inspirasi bagi gerakan pro-Demokrasi sehingga menjadikannya sebagai simbol perlawanan terhadap rezim Soeharto.
Menyandang status anak Sukarno di era Orde Baru adalah bencana karena serangan bertubi-tubi yang dihadapinya. Tapi ia terus tegak berdiri meski ditinggal seorang diri kemudian secara perlahan memulihkan nama baik Sukarno.
JAS MERAH, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.. @anwarsaragih_
