
By ; TB Mughiroh Nur Fadhil.
Kalau ada di medsos mempersoalkan kenapa ngundang LBY gak sowan dulu dan gak rembugan dulu, maka jawabannya =
Mereka telah mempublikasikan Manaqib KRT Sumodiningrat yang mereka sebut sebagai Hasan bin Thoha Bin Yahya. Dari Haul ke Haul. Bahkan ada yang menulis tesis tingkat Magister. Semuanya tanpa merujuk, berembug, bermusyawarah, dan sowan mencari kebenaran pada ahli waris atau trah KRT Sumodiningrat alih-alih ahli waris atau trah besarnya, yaitu Trah Kyai Kriyan.
Mereka pun tidak mengecek dan bermusyawarah dengan manuskrip Keraton Yogyakarta yang menceritakan KRT Sumodiningrat, di antaranya Babad Sepehi dan Babad Panular. Lebih parah lagi, mereka pun tidak mendasarkan pada data silsilah KRT Sumodiningrat yang tercatat di Keraton Yogyakarta. Padahal katanya mereka membahas tokoh yang terlibat di dalam sejarah Yogyakarta.
Lalu ketika apa yang mereka publikasikan dan mereka sebarluaskan melalui berbagai platform
Kini, ketika mereka, melalui tokoh utama mereka, diminta untuk langsung mempresentasikan apa yang mereka publikasikan itu di hadapan majelis ilmiah, bersama dengan para akademisi yang konsentrasi di bidang itu di sebuah institusi ilmiah, mereka bilang: “kenapa tidak berembuk dulu untuk menentukan tanggal?”, “kenapa tidak sowan dulu biar langsung ketemu?”, “kenapa tidak sowan dulu untuk minta kesediaan?”, dan kenapa-kenapa yang lain.
Aneh! Dulu mereka sangat gampang melakukan “tidak sowan”, “tidak bermusyawarah”, “tidak berembuk” dalam mempublikasikan bahwa KRT Sumodiningrat adalah Hasan bin Thoha Bin Yahya. Namun, ketika diperlakukan setimpal malah tidak terima. Wealah!
