Warga Solo Tidak Berkabung Meski Raja Meninggal Dunia

 

By : Dr.Ir. HADI PRAJOKO SH, MH Ketum PP HPK.

Untuk menguraikan mengapa raja’ rajaan ini mengalami kepunahan dan ketidak percayaan masyarakat perlu dianalisis dengan penjelasan tentang mengapa warga Solo tidak berkabung walaupun Raja mereka meninggal, dari berbagai perspektif:

– *Scientifik*: Dari perspektif ilmiah, peranan ilmu pengetahuan masyarakat sudah lebih tinggi karena intelektual pendidikan diatas rata-rata dari keturunan raja-raja tersebut sehingga perubahan zaman dan modernisasi telah membawa dampak perubahan besar dalam struktur sosial dan politik masyarakat. Warga Solo mungkin telah memahami bahwa monarki konstitusional hanya memiliki peran simbolis dan kultural, bukan lagi sebagai pusat kekuasaan politik, dan apabila raja’ dan keluarganya pendidikan nya tidak mengikuti dialektika ilmu pengetahuan dan keterampilan teknologi hanya kegiatan seremonial belaka maka dianggap sebagai entitas kerajaan tidak lebih kumpulan manusia yg ketinggalan zaman.

*Sosio-Cultural*: Dari perspektif sosio-kultural, warga Solo mungkin telah mengalami perubahan nilai dan norma sosial serta moralitas sosial yang mempengaruhi cara mereka memandang institusi kerajaan.
Mereka mungkin lebih fokus pada aspek kultural dan simbolis dari kerajaan, bukan lagi pada aspek kekuasaan dan kehilangan kepercayaan politik secara alami.

– *Historis*: Dari perspektif historis, Indonesia telah mengalami perubahan besar dalam sejarahnya, termasuk perjuangan kemerdekaan dan pembentukan negara modern. Warga Solo sedang melakukan transformasi dan benturan perubahan peradaban dan mungkin telah memahami bahwa peran kerajaan tidak lagi punya peranan telah berubah seiring dengan perubahan zaman.

– *Filosofis*:- dari perspektif filosofis, warga Solo mungkin telah memahami bahwa kehidupan adalah tentang perubahan dan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah sementara. Mereka mungkin telah memahami bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan dan bahwa peringatan kematian dapat menjadi kesempatan untuk refleksi dan introspeksi.

– *Spiritual*: Dari perspektif spiritual, warga Solo mungkin telah memahami bahwa kehidupan tidak hanya tentang dunia material, tetapi juga tentang aspek spiritual dan batiniah. Mereka kehilangan kekuatan metafisika, karena banyak pujangga yg tidak lagi mumpuni untuk memahami prediksi zaman dan mungkin tidak memahami bahwa perjalanan kematian adalah transisi ke alam lain dan bahwa yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani kehidupan dengan baik dan bermanfaat bagi orang lain, penting untuk Bisa mengembangkan dunia kebatinan bisa hidup kembali dalam kepingan menjaga kerajaan yg hilang.

Dengan demikian, warga Solo mungkin tidak berkabung secara besar-besaran karena mereka telah memahami perubahan zaman dan peran kerajaan dalam konteks modern.

Mereka mungkin lebih fokus pada aspek kultural dan simbolis dari kerajaan, serta memahami bahwa kehidupan adalah tentang perubahan dan introspeksi, dan kekacauan yang terjadi antar keluarga besar mereka.