
Oleh : Sayyid Diar Mandala. Tanggal: 07 November 2025. Pandeglang-Banten 🇮🇩
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudaraku yang dirahmati oleh Allah SWT.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa menghindari interaksi dengan orang lain, termasuk keluarga dan kerabat. Namun, bagaimana kita mengelola emosi dan bereaksi terhadap situasi tersebut sangat penting untuk membangun hubungan yang harmonis dan sehat. Dalam artikel ini, kita akan membahas tentang pentingnya mengelola emosi dan komunikasi keluarga, serta bagaimana kita dapat bereaksi dengan lebih bijak ketika dihubungi oleh keluarga atau orang lain.
Kita semua pernah mengalami situasi di mana kita merasa terganggu atau tidak nyaman ketika dihubungi oleh keluarga atau orang lain. Namun, bagaimana kita mengelola emosi dan bereaksi terhadap situasi tersebut sangat penting. Beberapa orang mungkin merasa marah atau bahkan mengungkit kesalahan orang lain yang memberikan nomor telepon mereka. Bayangkan jika Anda sedang sibuk dengan pekerjaan atau kegiatan lainnya, lalu tiba-tiba dihubungi oleh keluarga yang tidak terlalu dekat. Anda mungkin merasa terganggu dan tidak nyaman, lalu bereaksi dengan marah kepada orang yang dihubungi. Namun, apakah itu benar-benar solusi yang tepat?
Di sisi lain, ada orang yang mengaku agamis, namun tidak bisa mempraktekan ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mungkin sering mengungkit-ungkit tentang agama, namun tidak bisa mengelola emosi dan bereaksi dengan bijak. Mereka mungkin merasa bahwa mereka sudah melakukan yang terbaik, namun sebenarnya mereka masih memiliki banyak kekurangan dan ketidaktahuan tentang agama.
Contohnya, ada seorang yang mengaku agamis, sebut saja namanya si NunuKEnding, namun ketika dihubungi oleh keluarga, ia langsung marah dan mengungkit kesalahan orang lain yang memberikan nomor teleponnya. Ia tidak bisa mengelola emosi dan bereaksi dengan bijak, sehingga membuat situasi menjadi lebih buruk. Padahal, agama mengajarkan kita untuk selalu bersikap sabar, bijak, dan menghormati orang lain.
Wahai orang yang mengaku agamis, tapi tidak bisa mempraktekan ajaran agamamu! Kamu seperti sebuah pohon yang rindang, tapi tidak berbuah. Kamu seperti sebuah masjid yang megah, tapi tidak ada shalat di dalamnya. Kamu seperti sebuah Al-Quran yang suci, tapi tidak kamu baca dan tidak kamu amalkan.
Kamu suka mengungkit-ungkit tentang agama, tapi kamu tidak bisa mengelola emosi dan bereaksi dengan bijak. Kamu suka menilai orang lain, tapi kamu tidak bisa melihat kekurangan dirimu sendiri. Kamu suka berbicara tentang sabar dan bijak, tapi kamu tidak bisa mempraktekan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Sadarlah, wahai orang yang angkuh! Agama bukan hanya tentang penampilan, tapi tentang akhlak dan amal. Agama bukan hanya tentang kata-kata, tapi tentang perbuatan. Agama bukan hanya tentang shalat dan puasa, tapi tentang bagaimana kamu memperlakukan orang lain.
_Kesimpulan:_
Marah bukan jawaban yang tepat ketika dihubungi oleh keluarga atau orang lain. Sebaliknya, kita harus belajar mengelola emosi dan bereaksi dengan lebih bijak. Jika kita merasa tidak nyaman dengan panggilan tersebut, kita bisa mengatakan “Saya sedang sibuk, bisakah kita bicara nanti?” atau “Saya tidak bisa menjawab sekarang, bisakah saya menghubungi Anda kembali?”
_Saran:_
– Belajar mengelola emosi dan bereaksi dengan lebih bijak
– Jangan mengungkit kesalahan orang lain yang memberikan nomor telepon Anda
– Jika tidak nyaman dengan panggilan, katakan dengan sopan dan tawarkan alternatif waktu untuk bicara
– Berkomunikasi dengan keluarga dan orang lain dengan lebih terbuka dan jujur
– Praktekan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari, jangan hanya mengungkit-ungkit tentang agama
_Penutup:_
Mengelola emosi dan komunikasi keluarga adalah kunci untuk membangun hubungan yang lebih harmonis dan sehat. Mari kita belajar mengelola emosi dan bereaksi dengan lebih bijak, sehingga kita dapat membangun hubungan yang lebih baik dengan keluarga dan orang lain.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
#sdiarm
