Merawat Alam Menuju Kehidupan Berkelanjutan

By : Dr. Sukidin. M.Pd.

Akhir-akhir ini fenomena kerusakan alam terus menghiasi pemberitaan di media massa maupun media sosial. Kita semua juga sudah mafhum, bila kerusakan alam tersebut akibat ulah eksploitatif dari keserakahan manusia.

Manusia sudah menjadi kalap sehingga alampun dirusak demi keuntungan yang berbasis materi. Kebiasaan hidup dengan merusak alam harus segera dihentikan, dan diganti dengan spirit merawat alam. Merawat lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama penduduk bumi. Alam adalah tempat terindah manusia berpijak dan tempat hidup bagi semua makhluk penghuni semesta.

Kepedulian terhadap keadaan lingkungan merupakan cerminan keseriusan dengan memperhatikan lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi mendatang.

Namun realitasnya sebagian dari kita justru rakus dalam memperlakukan alam dan mengambilnya sesuka hati, mengekploitasi tanpa berpikir dampak negatifnya. Manusia telah merusak ekosistem yang ada di bumi. Lantas siapa yang harus dipersalahkan atas terjadinya bencana kerusakan alam tersebut?.

Hanya sibuk mencari pihak yang salah, bagaikan menegakkan benang yang kusut. Saat ini yang terpenting adalah kembalinya menyadari pentingnya merawat alam.
Fenomena kerusakan alam merupakan tanggungjawab kolektif warga bangsa.

Untuk itu semua warga bangsa mulai sekarang diharapkan memiliki kesadaran pada pelestarian lingkungan. Apabila kita merujuk pada ajaran agama, bahwa tujuan Tuhan menciptakan manusia (khalifah) adalah untuk menjaga kelestarian ekosistem bumi dan menjaga keutuhan yang ada di dalamnya.

Tuhan telah memberi kehidupan dengan anugerah alam yang melimpah. Laut yang luas, udara yang segar, hutan yang hijau, dan gunung-gunung yang kokoh adalah sebagian kecil dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Tuhan juga telah menganugerahkan air yang mengalir, tanaman yang tumbuh, dan hewan-hewan yang memberikan makanan dan pakaian bagi kita. Semua ini adalah bukti kasih sayang-Nya yang tak terhingga.

Para leluhur adalah teladan yang sempurna dalam menjaga bumi dan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan alam. Beliau mengajarkan kita untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Kita sebagai warga bumi, harus menjadi pelindung alam, bukan penghancur alam.

Tuhan telah menugaskan kita sebagai khalifah di bumi ini, yang artinya harus bertanggung jawab menjaga dan merawatnya. Di antara tugas utama manusia diciptakan Tuhan adalah mengemban amanat menjaga bumi.

Misi suci ini perlu untuk diperkuat di tengah semakin masifnya fenomena kerusakan alam. Janganlah kita berbuat merusak alam setelah diatur dengan baik oleh Tuhan. Mari tradisikan merawat bumi dan lingkungan. Setiap kita harus memiliki semangat menginspirasi yang lain untuk berperilaku bijak menjaga lingkungan, demi keseimbangan alam yang Tuhan ciptakan.

Saat ini kita dapat melihat bahwa kondisi alam yang sudah mulai tidak seimbang akibat kesadaran masyarakat semakin menurun dalam menjaga lingkungan. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Tahun 2023, terdapat 2.724 peristiwa bencana alam di Indonesia.

Bencana banjir masih mendominasi yaitu sebanyak 852 kejadian, diikuti cuaca ekstrem 836 kejadian. Selanjutnya, ada 487 kebakaran hutan dan lahan (karhutla), 442 kejadian tanah longsor, 60 kekeringan, 24 gelombang pasang/abrasi, 21 gempa bumi, serta 2 kejadian erupsi gunung api.

Alam sebagai karunia Tuhan yang tak ternilai harganya adalah sumber kehidupan bagi kita dan generasi mendatang. Kita sebagai umat manusia di bumi ini memiliki tanggung jawab besar untuk merawat alam agar tetap lestari dan berkelanjutan. Alam memberikan berbagai sumber daya seperti air, udara bersih, tanaman, dan hewan yang menjadi bekal kehidupan manusia sehari-hari.

Namun, tindakan manusia yang tidak bertanggung jawab telah menyebabkan kerusakan besar terhadap alam.
Kita menginginkan, peristiwa bencana kerusakan alam tidak berlanjut. Perlu disadari bahwa sebagian besar kerusakan ini disebabkan aktivitas manusia yang merusak ekosistem, dengan menguras sumber daya alam tanpa memikirkan dampak kerusakan jangka panjangnya.

Kita seringkali lupa bahwa alam adalah warisan yang harus dijaga, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk anak cucu di kemudian hari.

Jika hal ini tidak segera diperbaiki, maka bencana yang lebih besar akan menghantui kehidupan.

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Sebagai wujud nyata menjaga alam ini, perlu peningkatan kesadaran kita akan pentingnya menjaga ekosistem. Kita harus belajar untuk hidup secara berkelanjutan, menggunakan sumber daya alam dengan bijak, dan mengurangi jejak pengrusakan ekologi. Tindakan nyata bisa dilakukan dengan mengelola sampah dengan baik, menghemat air, mendukung energi terbarukan, dan berkontribusi pada upaya pelestarian lingkungan.

Perilaku menjaga alam secara berkelanjutan dan memberi kesadaran kepada semua orang tentang keberlangsungan kehidupan, maka bencana alam akan semakin berkurang. Kebiasaan menjaga lingkungan, pohon tumbuh dengan baik yang menjadikan resapan tanah semakin baik dan pohon-pohon akan menjaga kekuatan tanah

Jika musim panas datang, sumber air bersih masih bisa terus keluar dari bumi dan mengalir dengan baik untuk dipergunakan bagi kebutuhan hidup. Semua ini membutuhkan komitmen bersama sekaligus mewujudkan perintah Tuhan untuk tidak merusak alam. Tuhan sudah menegaskan bahwa tidak suka kepada orang yang berbuat kerusakan.

Para generasi terdahulu sudah mengingatkan kita untuk terus merawat lingkungan seperti menghidupkan lahan mati dengan cara menanami pepohonan. Hal ini sebagai upaya untuk membantu mengatasi masalah lingkungan dan memastikan bahwa lingkungan bisa tetap asri dan lestari. Rasulullah Saw bersabda;

“Tidaklah seorang muslim menanam pohon kecuali buah yang dimakannya menjadi sedekah, yang dicuri menjadi sedekah, yang dimakan binatang buas adalah sedekah, yang dimakan burung adalah sedekah, dan tidak diambil seseorang kecuali menjadi sedekah”.

Inilah perintah-perintah nyata Tuhan dan Rasulullah kepada kita semua untuk senantiasa menjaga bumi dan lingkungan kita, yang pada saatnya nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban tentang cara kita merawatnya. Semoga kita diberi kesadaran, kekuatan, dan tekad yang kuat untuk menjaga alam ini demi keberlanjutan kehidupan ibu pertiwi. Semoga Tuhan senantiasa membimbing kita dalam ikhtiar merawat alam menuju kehidupan berkelanjutan.

*Penulis adalah Direktur Yayasan Edukasi Mandiri dan Koordinator Program Studi Magister Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Jember