
Oleh Kang Subari
Guru dan Dosen Harus Berubah cara mendidik. Manusia hidup di dunia Ada yang menempuh pendidikan di bangku sekolah , tingkat Sekolah Dasar, 12 tahun. SMP /MTS selama 3 tahun SMA/ MA/ SMK selama 3 tahun kemudian Lalu kuliah S1 selama =4 tahun.Belajar rumus, teori, hafalan, bahkan skripsi tebal-tebal.Tapi setelah lulus. kenapa pekerjaan yang tersedia justru tidak butuh semua itu?
Data BPS 2023 menunjukkan:
Lebih dari 58% lulusan perguruan tinggi di Indonesia bekerja di luar bidang keilmuannya. Sementara lebih dari 50% lulusan SMK justru menganggur.
Menurut penelitian dari LPEM FEB UI (2024) menyebut ada mismatch besar-besaran antara pendidikan dan kebutuhan industri — baik secara vertical (pendidikan terlalu tinggi/tidak cukup), maupun horizontal (jurusan tidak nyambung dengan pekerjaan).
Di sisi lain, 46% perusahaan di Indonesia kesulitan menemukan tenaga kerja yang sesuai, menurut survei KitaLulus–Populix 2024. Ironis. Kita punya jutaan lulusan, tapi perusahaan tetap bilang: “nggak ada yang cocok.”
Kenapa ini terjadi?
Karena sekolah dan kampus masih mendidik untuk masa lalu, bukan masa depan. Karena sistem mengajar pelajaran, bukan kompetensi.melainkan sibuk mengejar nilai, bukan membangun skill dan karakter.
Maka Guru dan Dosen harus berubah saat mendidiknya. Sistem pendidikan saatnya harus berubah. Ada sistem pendidikan merdeka dan Deeplearning (pendekatan) dan life skills.
Menurut Subari pengamat pendidikan “Kurikulum harus adaptif, berbasis kebutuhan ikuti perkembangan zaman dan industri.”
Guru dan dosen harus jadi fasilitator eksplorasi, bukan hanya pengisi papan tulis.
Anak-anak harus belajar kolaborasi lintas bidang, literasi digital, komunikasi, dan problem solving.
Kita harus berhenti mendidik siswa hanya untuk ujian, dan mulai mendidik mereka untuk hidup hidup yang kompleks, cepat, dan tak bisa diprediksi.
Pendidikan hari ini hanya akan relevan…jika mampu membuat anak-anak bukan hanya pintar, tapi juga siap berdaya serta Berakhlak.
