
Kediri-Menaramadinah. Com Sabtu Pahing, 19 Juli 2025, Silaturahmi: Menyambung Persaudaraan dan Menambah ilmu. Siang ini matahari terik, angin semilir di Kota Wates, Kabupaten Kediri. Baharuddin Khoirul, mempersilahkan masuk ke rumah lewat pintu samping kiri rumah, dan dipersilahkan duduk di kursi tempat bersantai, menerima tamu-tamu dekat nya, dia sendiri duduk diatas dipan bambu sebagai tempat membaca buku, dan diujung kanan dipan ada sebuah kotak untuk menempatkan buku-buku yang lagi dibacanya. Disekitar tempat ngobrol ada berbagai peralatan untuk merawat ikan-ikan gurami yang kolam-kolamnya dari tersebut yang dirakit dengan lanjoran besi-beri yang di Las sehingga bentuk nya menjadi kolam-kolam bundar, e ternyata Baharuddin atau Mas Udin, memiliki usaha pembenihan ikan gurami kolam darat. Asik juga kolam-kolamnya.
Mas Udin dengan ramah menyambut penulis dengan sangat ramah, pelukan dan ciumannya terasa hangat sekali, dengan kaos hitam dan celana kombor serta ikat pinggang dari tampar besar warna putih, jelas sekali kalau Mas Udin adalah seorang warok masa kini yang tenang namun sangat moderat.
Belum seberapa lama kami berbincang istri Mas Udin memberikan suguhan kopi, dan sepiring kue lumpur dan kue wingko, “Tahun suwun Mbak”: kataku. “Inggih, monggo dipun dahar” (Iya, silahkan dimakan): jawab istrinya Mas Udin, sembari kembali keruang dapur.
Sambil minum kopi di panas terik, terasa menyegarkan ditambah camilan kue-kue yang lezat, obrolan semakin asik.
Setelah menikmati kopi dan kue itu, penulis minta izin untuk sholat Duhur, agar ngobrol nya lebih tenang. Mas Udin, menunjukkan tempat wudhu dan tempat sholat sambil menjelaskan tempat ruang kerja, ruang istirahat dan ruang bacanya.
Usai sholat penulis melihat deretan rak-rak buku yang mungil dan estetik, penulis tertarik dengan buku autobiografi Gus Dur dan beberapa buku lainnya, sementara itu Mas Udin juga mau sholat duhur.
Di empok belakang tempat kami mengobrol tadi penulis mulai membuka buku-buku tersebut, secara cepat, beberapa saat kemudian Mas Udin muncul dan bercerita berbagai hal pengalaman nya yang sangat menarik, antara lain: kisah keluarga nya yang menyukai ilmu, kesenian dan kebudayaan, ilmu olah kebatinan, masa-masa mudanya berguru, dan lain sebagainya termasuk kegiatan kesenian yang ditekuninya sampai saat ini, yaitu: Reok Ponorogo.
“Supaya suasananya tambah asik, tak setelkan gendig-gending”: katanya dan saat itu juga muncul lah dipendengaran kami, suara gamelan yang lembut dan tembang yang sahdu.
Obrolan ini ya memang ngobrol saja, bicara ‘ngalor-ngidul’ namun Mas Udin juga mengisahkan pengembaraan belajar keilmuan spiritual nya mulai dari ujung timur Pulau Jawa (Banyuwangi) sampai ujung Barat yaitu Cirebon, bahkan menyeberang sampai di Pulau Sumatra dan Kalimantan, di bidang seni reog ponorogo, ke-warok-annya juga diakui oleh gurunya yaitu: Al-Mursid Siddiq iyah, KH. Muhtar dari Rejoso Jombang, pada saat masih kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Negeri Jember, sampai saat ini Reog Mahasiswa Sardulo Petah, masih eksis dan terus ada regenerasi, yang membanggakan adalah tampilnya reog anak-anak. Para Warok Generasi Tua, juga mengakui keberadaan Mas Udin, kelompok reog Sardulo Petah berkesempatan juga tampil dalam iven besar di kota kelahirannya Ponorogo. “Secara rohani, anak-anak pemain reog puasa dulu minimal tiga hari sampai tujuh hari”: kata Mas Udin, mengenang masa itu.
Untuk oleh batin dalam mendapatkan ketenangan jiwa dan mendapatkan kebijaksanaan, dia juga berguru dan belajar serta mengamalkan sholawat Wahid iyah, baik di Kedunlo Kota Kediri maupun di Pondok PA Grenggeng Ngoro Jombang.
Mas Udin, ketika menjabat sebagai Korkab di PPKH Kabupaten Kediri, dikenal akrab dan dekat dengan pendamping PKH di kecamatan yang menjadi wilayah tugasnya, bahkan sering turut serta dengan para pendamping saat mengunjungi anggota KPM, penulis berkali-kali didampingi Mas Udin, saat mengunjungi KPM yang anak-anak bersemangat untuk berkuliah untuk turut memberikan informasi dan motivasi agar anak sukses kuliah nya, tidak hanya itu, saat penulis (juga Pendamping PKH saat itu bertugas di Kecamatan Kandangan) mengajarkan ‘Pentingnya Bersih Diri dan Lingkungan’ khususnya cara membersihkan toilet tanpa menggunakan bahan kimia yang bisa berdampak kurang baik bagi peralatan sanitasi, Mas Udin, tidak segan dan mau melihat kloset yang sudah dibersihkan sesuai dengan cara yang diajarkan penulis kepada KPM dampingan, di WC KPM tersebut Mas mendengar kan penjelasan penulis penuh perhatian dan memberikan apresiasi yang bagus, saat selesai melihat WC KPM tersebut pada saat ngobrol dengan KPM yang memiliki closed bersih tersebut berperan agar budaya hidup bersih itu juga diajarkan kepada anak-anak nya. Kebiasaan umum masyarakat ‘kurang peduli kebersihan’ terutama WC. Kadang penulis juga merasa ‘geli sendiri’ masa Korkab, jauh-jauh dari Wates ke Kandangan, kok disuguhi WC? Apa istimewa nya? Pada saat itu penulis menekankan bahwa closed yang kotor menjadi tempat sarang penyakit dan orang kurang peduli hal tersebut, nah untuk memotivasi KPM setelah sesi tersebut, supaya membersihkan WC dan terutama closed nya, karena nanti akan dikunjungi Bapak Korkab dari Kediri, semuanya supaya siap. Beberapa hari kemudian KPM ada yang sudah siap dikunjungi, maka penulis minta jadwal Mas Udin untuk datang ke Kandangan, beberapa kali Mas Udin, berkunjung untuk melihat WC KPM binaan penulis.
Hal lain yang juga menjadi perhatian Mas Udin adalah pendidikan, beberapa kali penulis mengantarkan nya mengunjungi anak-anak KPM yang berkuliah, dan alhamdulillah anak-anak itu ada yang sudah menjadi sarjana dan alumni UNEJ.
Sementara kami asik ngobrol istri menghidangkan dua bungkus lontong tahu yang lezat, wah nikmat sekali. “Pada usia diatas 50 tahun ini, saya memulaiembaca dan menulis”: kata Mas Udin, sambil memegang sebuah buku primbon gagrak Solo, dalam batin penulis bilang:” Wah cocok ini”.
Giliran penulis menyampaikan bahwa, dalam pengalaman berkesenian ‘Lukisan Cekakik’ ternyata tema-tema dulu saat berpameran ternyata dalam kehidupan nyata, penulis mengalami secara langsung contoh nya ketika dulu mengangkat tema: “Gendam Asmara dana”, penulis betul-betul kena gendam, pada saat lagi berjuang membangun gedung TPQ, puluhan juta, tema: ” Tiga Tokoh NU”, akhirnya penulis juga berkesempatan pameran di acara Muktamar NU ke 33 di Jombang, tema: “Gus Dur Waliyyullah” Penulis beberapa kali berkesempatan bertemu Mbak Inayah, putri bungsu Gus Dur, tema: “Mbah Nawawi Ringin Agung, penulis bisa dekat dan akrab dengan Gus Hafidz, dan yang menjadi penulis sangat bersyukur, ada yang mengingatkan, dan menasehati saat penulis ‘terlena’ diingatkan dan didoakan agar bisa keluar dari masalah yang menimpa. Hal-hal itulah yang penulis rasakan. “Kita bersilaturahmi dan berjumpa kepada siapapun, sesungguhnya kita sedang belajar”: kata Mas Udin sambil menikmati lontong yang cukup pedas bagi penulis tapi sedang-sedang saja bagi Mas Udin.
Obrolan ngalor ngidul masih berlanjut, penulis menyampaikan bahwa tiga tahun terakhir bertugas di Kecamatan Kandangan, penulis meneliti ‘mimpi-mimpi basah’ yang dialami oleh KPM, mulai dari pasangan muda, (PUS: Pasangan Usia Subur), janda muda/lansia dan hasil nya ternyata lansia memiliki frekuensi yang tertinggi mimpi basah dan atau mimpi erotis, sementara ada yang sangat unik dari pasangan usia muda ada setiap hari mimpi basah setiap hari selama lebih dari satu tahun.
Mas Udin, menanggapi KPM lansia yang frekuensi mimpi basah nya tinggi itu mengatakan bahwa itu merupakan ungkapan kerinduan pada masa-masa muda dulu.
Mas Udin, sambil memegang sebuah buku primbon menjelaskan bahwa ada banyak macam dan jenis nya dan ini bagi penulis karena saat ini lagi menyiapkan naskah rencana sebuah buku tentang mimpinya para KPM tersebut.
Tak terasa matahari sudah condong ke barat, waktu sudah menjelang asar, penulis mohon pamit, walaupun obrolan masih belum tuntas.
Sambil mengantarkan penulis pulang sampai di halaman depan rumah, Mas Udin, siap menerima kehadiran penulis.
Nur Habib, mengabarkan.
