Abu Ibrahim Woyla dan Tsunami

Abu Ibrahim Woyla dan Tsunami
(Kisah Ulama Aceh dan Karomahnya)

Karomah adalah suatu nikmat yang diberikan oleh Allah kepada hambanya yang terpilih. Karomah merupakan anugerah yang diturunkan kepada siapapun yang dikehendaki. Karomah itu akan muncul dari seseorang yang selama hidupnya istiqomah dalam menghambakan dirinya kepada Sang Pemilik. Sebagaimana seorang ulama pernah berkata
اَلْإِسْتِقَامَةُ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ كَرَامَة وَثُبُوْتُ الْكَرَامَةُ بِالْإِسْتِقَامَةِ
“Istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah namun karomah akan muncul pada seorang yang menjaga keistiqomahan (dalam kebaikan)

Dalam perjalanan kami menelusuri pantai barat Sumatera tepatnya saat beradi Woyla, Aceh Barat kami menemukan kisah ulama’ yang alim yang diberikan karomah oleh Allah SWT atas keistiqomahannya dalam berdakwah. Dan Berikut kisahnya:

Isyarat Datangnya Tsunami

Suatu pagi pada 26 Desember 2004, Abu Ibrahim Woyla berjalan dari kediamannya di Woyla menuju Gampong (Desa) Kuala Bubun. Sebuah desa dipantai barat Sumatera, yang berjarak sekitar 30 KM dari Pusat Kota Meulaboh.

Sesampai disana, beliau tiba-tiba berseru pada para penduduk agar segera meninggalkan rumah untuk menuju ke bukit atau tempat-tempat yang tinggi. Namun tak ada orang yang menghiraukannya.

Karena tak diacuhkan, beliau yang saat itu membawa cat, langsung naik ke pohon dan tiang listrik seraya mengecat bagian atasnya.

Orang-orang pun hanya terheran-heran melihat tingkah beliau dan sebagian malah menganggapnya tidak waras. Namun hal itu tidak dihiraukannya dan beliau terus menerus naik turun tiang atau pohon dan mengecat puncak tiangnya.

Karena warga masih bersikeras tak mau beranjak dari kampungnya. Maka beliau pun segera pergi dan segera lenyap dari pandangan.

Tak lama kemudian, terjadilah gempa dahsyat yang mengguncangkan bumi Aceh termasuk gampong bubun ini.

Warga pun panik dibuatnya dan banyak yang lari tak tentu arah akibat gempa bumi 9,3 skala richter ini.

Tak lama setelah gempa laut pun surut dengan drastis, dan terlihat banyak ikan yang bermunculan di bibir pantai. Mengetahu hal itu, warga segera memungut ikan-ikan tersebut dan tak dinyana air yang surut tadi kembali datang dengan gelombang yang begitu tanggi.

Gelombang tsunami tersebut dengan cepatnya menghantam warga, pemukiman, gedung-gedung dan apapun yang dilewatinya. Disitulah warga baru sadar bahwa apa yang telah disampaikan Abu Ibrohim. Namun nasi telah menjadi bubur, warga Bubun pun terhanyut bersama kampungnya

Pak Haji dan Hilangnya Kitab

Suatu ketika ada seseorang mau berhaji dan hendak sowan ke Abu Ibrohim. Sesampai disana beliau disambut dengan ramah oleh beliau. Sebelum pulang, beliau bermaksud meminta sebuah kitab untuk dibawa ke tanah suci, namun permohonan itu ditolak dengan halus oleh beliau.

Maka berangkatlah orang tersebut ke tanah suci. Singkat cerita sampailah beliau disana. Tak dinyana, disana beliau berjumpa dengan Abu Ibrahim Woyla dan saat itu juga beliau memberikan kitab kepadanya. Setelah mendapatkan kitab tersebut Abu Woyla lenyap dari pandangan. Bertambahlah bingung orang tadi, namun diteruskanlah ibadah hajinya sampai selesai.

Saat perjalanan pulang, kitab yang diberikan Abu Woyla tiba-tiba hilang. Paniklah pak haji melihat hal ini. Maka sesampainya di tanah air, bersegeralah beliau sowan ke kediaman Abu Woyla

Sesampai disana, beliau langsung meminta maaf kepada Abu Woyla atas kelalaiannya menjaga kitab tadi. Dan Abu Woyla pun memaafkannya dan tak lama kemudian beliau menunjukkan kitab yang hilang tadi.

Maka bertambah heranlah pak haji tadi. Dan setelah itu Abu Woyla menyuruhnya pergi dan berpamitlah pak haji tadi sambil terus terheran-heran.

Mati Tapi “Hidup”

Ketika Abu Ibrahim Woyla wafat, kabar tersebut langsung tersebar di telinga masyarakat luas. Berduyun-duyunlah masyarakat melayat untuk memberikan penghormatan terakhirnya. Awalnya almarhum berwasiat untuk dimakamkan di pesantrennya, namun kedua orang putrinya meminta untuk dikebumikan tak jauh dari rumahnya di Woyla. Maka dilangsungkalah prosesi pemakaman di Woyla, Aceh Barat.

Selang tujuh hari setelah wafatnya, terlihat oleh warga sekitar, Abu Woyla berdiri di dekat embung pesantren. Namun tak lama kemudian lenyap beliau dari pandangan. Dan di malam harinya anak bungsunya, bermimpi didatangi oleh beliau agar dibangunkan makam di areal pesantren di tempat yang memang telah digali oleh Abu Woyla sendiri sebelumnya.

Maka untuk melaksanakan wasiat almarhum, dibangunlah makam beserta cungkupnya. Jadilah makam Abu Woyla berada di dua tempat, pertama di woyla dan satu lain di Kuala Bubun. Dan setelah itu, tak bermunculan lagi sosok almarhum baik di dunia nyata maupun alam mimpi.

Begitulah para ulama telah diberikan ilmu waskita, menerawang apa yang akan terjadi. Namun kita tak mampu memahami mereka. Dan sejatinya mereka meski telah tiada mereka masih hidup d alam lain sementara kita tidak mampu merasakannya.

Siapakah sosok Abu Ibrahim Woyla sebenarnya? Mengapa beliau dapat mendapat karomah-karomah diatas. Berikut profil singkatnya dikutip dari laman dayah darurrahmah.blogspot.com

Abu Ibrahim Woyla yang bernama lengkap Teungku Ibrahim bin Teungku Sulaiman bin Teungku Husen dilahirkan di kampung Pasi Aceh, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat pada tahun 1919 M. Teungku adalah sebutan ulama di Aceh, seperti Kyai di Jawa, Tuanku di Minangkabau, atau Tuan Guru di Nusa Tenggara Barat.

Menurut riwayat, pendidikan formal Abu Ibrahim Woyla hanya sempat menamatkan Sekolah Rakyat (SR), selebihnya menempuh pendidikan Dayah (Pesantren) selama hampir 25 tahun. sehingga dalam sejarah masa hidupnya Abu Ibrahim Woyla pernah belajar 12 tahun pada Syeikh Mahmud seorang ulama asal Lhok Nga Aceh Besar yang kemudian mendirikan Dayah Bustanul Huda di Blang Pidie Aceh Barat. Di antara murid Syeikh Mahmud ini selain Abu Ibrahim Woyla juga Syeikh Muda Waly Al-Khalidy yang kemudian sebagai seorang ulama tarekat Naqsyabandiyah tersohor di Aceh, Pendiri Pondok Pesantren Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan.

Menurut keterangan, Syeikh Muda Waly hanya sempat belajar pada Syeikh Mahmud sekitar 4 tahun, kemudian pindah ke Aceh Besar untuk belajar pada Abu Haji Hasan Krueng Kalee selama 2 tahun. Setelah itu Syeikh Muda Waly pindah ke Padang dan belajar pada Syeikh Jamil Jaho Padang Panjang.

Dua tahun di Padang Syeikh Muda Waly melanjutkan pendidikan ke Mekkah atas kiriman Syeikh Jamil Jaho, setelah 2 tahun di Mekkah kemudian Syeikh Muda Waly kembali ke Blang Pidie dan melanjutkan mendirikan Dayah di Labuhan Haji Aceh Selatan.

Saat itulah Abu Ibrahim Woyla sudah mengetahui bahwa Syeikh Muda Waly telah kembali dari Mekkah dan mendirikan Pesantren, maka Abu Ibrahim Woyla kembali belajar pada Syeikh Muda Waly untuk memperdalam ilmu tarekat naqsyabandiyah yang didirikan oleh Syekh Bahauddin an-Naqsyabandi ini.

Namun sebelum itu Abu Ibrahim Woyla pernah belajar pada Abu Calang (Syeikh Muhammad Arsyad) dan Teungku Bilyatin (Suak) bersama rekan seangkatannya yaitu (alm) Abu Adnan Bakongan.

Setelah lebih kurang 2 tahun memperdalam ilmu tareqat pada Syeikh Muda Waly, Abu Ibrahim Woyla kembali ke kampung halamannya, tapi tak lama setelah itu Abu Ibrahim Woyla mulai mengembara yang dimana keluarga sendiri tidak mengetahui kemana Abu Ibrahim Woyla pergi mengembara.

Menurut riwayat dari Teungku Nasruddin (menantu Abu Ibrahim Woyla) semasa hidupnya Abu Ibrahim Woyla pernah menghilang dari keluarga selama tiga kali, Pertama, Abu Ibrahim Woyla menghilangkan diri selama 2 bulan, Kedua, Abu Ibrahim Woyla menghilang selama 2 tahun dan Ketiga, Abu Ibrahim Woyla menghilangkan diri selama 4 tahun yang tidak diketahui kemana perginya.

Abu Ibrahim Woyla memiliki dua orang isteri, isteri pertama bernama Rukiah, dari hasil pernikahan ini Abu Ibrahim Woyla dikaruniai 3 orang anak, seorang laki-laki dan 2 perempuan. yang laki-laki bernama Zulkifli dan yang perempuan bernama Salmiah dan Hayatun Nufus. Sementara pada isteri keduanya yang beliau dinaki di Peulantee, Aceh Barat, dua tahun sebelum beliau meninggal tidak dikaruniai anak.

Abu Ibrahin Woyla, selain berdakwah di kampung halamannya di Woyla, beliau juga mendirikan dayah (pesantren) di Bubun, yang kedua wilayah tersebut masuk wilayah Aceh Barat. Selain Beliau dikenal sebagai pendakwah keliling dari gampong ke gampong. Semasa hidupnya beliau akrab dengan KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

Abu Ibrahim Woyla meninggal dunia pada hari Sabtu, 18 Juli 2009 pukul 16.00 WIB di kediaman anaknya di Pasi Aceh Kecamatan Woyla Induk, Kabupaten Aceh Barat dalam usia 90 tahun. Beliau dimakamkan tak jauh dari tempat beliau menghembuskan nafas terakhir. Dan sampai saat ini masih banyak masyarakat yang datang dari berbagai daerah datang untuk berziarah makamnya.

Semoga Bermanfaat

Aceh Barat, 25 Oktober 2018
Muhammad Abid Muaffan
Santri Backpacker Nusantara

Koresponden MM.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *