Situs Ngawonggo Tinggalan Cucu Sunan Kalijogo di Ceper Klaten

 

Pada saat penulis di ajak Mas Joko dari Trucuk yang masih trah Ngawonggo untuk menziarahi ke makam-makam Ngawonggo maka penulis menemukan peninggalan sejarah yang luar biasa punya nilai sejarah bagi kota Klaten tapi sayang keberadaan makam khas mataraman tersebut kurang terurus dengan baik. Bagaimana ceritanya. Berikut ini :

Panulis juga mengamati bangunan bangunan komplek makam dengan tembok dari bata merah yang tebal, juga jenis batu nisan yang kebanyakan di pakai di makam tersebut, pohon bunga semboja sangat menguatkan nilai sejarah yang tinggi.

Pada sebelah selatan makam terdapat sungai yang mengesankan pada zaman dulu sungai yang sangat indah, cuma sekarang terlihat hanya sungai yang banyak semak belukar yang banyak tumbuh rumput liar yang tinggi.Kemudian di sekitar makam terdapat perkampungan yang masih kental kesantrian nya masih kuat kegiatan religi keagamaan, terdapat bebepa masjid, langgar, madrasah diniyah dan Pesantren.

Ngawonggo Ceper Klaten dulunya merupakan Pesanggrahan Perdikan pada era zaman Kasultanan Pajang yang pernah di diami seorang Ulama Waliyullah yaitu Kyai Ageng Pametjut merupakan cucu Sunan Kalijaga yang konon mempunyai kesaktian tinggi dan keramat.

Kyai Ageng Pametjut adalah masih cucu Sunan Kalijaga yang pertalian nasabnya melalui ayahnya Sunan Adi. Ki Ageng Pametjut mempunyai saudara seibu yang bernama Kyai Ageng Pembantjar yang sekarang makamnya di perkampungan Blotoan Kartosura. Menurut penuturan Mbah Mari Dalang sepuh dari Senden Ngawonggo yang masih dzuriahnya bahwa Kyai Ageng Pametjut tidak mempunyai keturunan, kemudian pesanggrahan Ngawonggo yang meneruskan para putra trah keturunan Kyai Ageng Pembantjar yaitu Pangeran Djungut, ternyata nama Pangeran Djungut itu ada 3 yang masih trah keturunan. Pengeran Djungut 1 inilah yang mendiami di Ngawonggo meneruskan Pesanggrahan para Datuknya,Pangeran Djungut I ini yang di ambil menantu Sultan Hadiwijoyo, konon makamnya juga di Ngawonggo sayang karena kurang terurus keberadaan makamnya belum di temukan secara pasti.

Catatan Silsilah Kyai Ageng Pametjut dan Pangeran Djungut yang bersambung pada Sunan Kalijaga, Sultan Pajang dan Keraton Surakarta ini mendasarkan pada silsilah resmi dari Keraton Surakarto yang di miliki Mbah Mari Dalang.

Pangeran Djungut ke 2 konon makamnya di Pengging Boyolali juga masih perlu penelusuran lebih lanjut, sementara yang bisa kita temukan di komplek makam Ngawonggo adalah makam Pangeran Djungut Mandurejo yang menjadi menantu Raja PB 2 Keraton Surakarta.

Di komplek Makam Ngawonggo tampak megah dan luas, sangat kental makam mataraman, terdiri 2 Gedong utama, yaitu Gedong Inten di situ tempat makamnya Kyai Ageng Pametjut dan terdapat beberapa makam yang belum di kenali makam siapa, kemudian ada Gedong Emas di sinilah di makamkam Pangen Djungut Mandurejo (menantu PB) dan istrinya Raden Ayu Djungut Mandurejo putri PB 2. Juga terdapat makam pada kerabat / sentono dalem Keraton Surakarta diantaranya Kanjeng Ratu Beruk, Tumenggung Wareng Sono Warso Kusumo, R.Ay Rengga Ningsih dan beberana nama yang masih sulit di kenali namanya.

Dari penulusuran buku Asal silahipun Para Nata karya G.R Ay Brataningrat Surakarta terdapat kejelasan bahwa Sampeyan Hingkang Sinuwun PB II dengan istrinya G.K.R.Kencana mempunyau putra putri dalem ada 29, di situ jelas bahwa G.R.Ayu Djungut putra putri yang ke 29.

Dari informasi yang diperoleh Mbah Dalang Mari bahwa Ngawonggo Klaten pada jamannya Pajang dan Mataram merupakan tanah perdikan yang mempunyai hak kepemerintahan dibawah Pajang dilanjutkan jaman Mataram. Dari buku Babad Pangeran Sambernyawa di peroleh catatan bahwa Raden Said yang kemudian bergelar Pangeran Sambernyawa beberapa kali mendatangi Pangeran Djungut Mandurejo untuk meminta banyak nasehat sebelum meletus peperangan melawan Kompeni Belanda memperoleh banyak kemenangan.

Dalam buku Silsilah dan Ajaran Makrifat juga mencatat terdapat Pangeran Ngawonggo yang diberi tugas khusus dari Sultan Agung Mataram untuk menyusun dan merumuskan ajaran-ajaran para Wali songo.

Terdapat keterangan juga bahwa Pujangga Keraton Surakarta Kyai Ngabehi Yosodipura II ketika menulis naskah Serat Tjentini itu secara khusus menyelesaikan menulis naskah tersebut di Pesanggrahan Ngawonggo atas ijin Pangeran Djungut Mandurejo.

Bebepa peninggalan sejarah tinggalan Kyai Ageng Pametjut dan Pangeran Djungut adalah disamping ada makam kuno khas mataraman, adanya Masjid Tiban tinggalan wali, ada bangunan bekas Pesanggrahan Pangeran Djungut yang sekarang jadi pabrik, juga ada kampung Djungutan.

Banyak hal yang perlu di kuak dari kisah Ki Ageng Pametjut dan Pangeran Djungut Mandurejo yang merupakan cucu keturunan Sunan Kalijaga dan kesejarahan Ngawonggo Ceper klaten. Ada pertanyaan dari pembaca sejarah bahwa Sunan Kalijogo yang hidup era akhir Majapahit, era Demak juga masih hidup di era pajang dan mataram terasa kurang masuk akal bahwa sunan Kalijogo sampai berusia melebihi 200 tahun, maka patut di duga bahwa Sunan Kalijaga yang hidup di era Pajang dan Mataram itu Sunan Kalijogo generasi yang ke 3 yaitu Kyai Ageng Pametjut karena secara kebetulan Kyai Ageng Pametjut cucu Sunan Kalijogo ini pesanggarahannya dan juga makamnya di Ngawonggo Ceper Klaten.

Kalau demikian hal nya yang menemui Panembahan Senopati, juga Sultan Agung Mataram juga Kyai Ageng Gribik adalah Kyai Ageng Pametjut cucu Sunan Kalijaga juga di sebut Sunan Kalijaga ke 3.Juga jejak jejak dakwah Sunan Kalijaga di daerah klaten merupakan bagian dari jejak dakwah Kyai Ageng Pametjut bisa di temukan di trucuk, cawas, Jatinom, Tulung dan masih banyak tempat lain.

Sudah seharusnya masyarakat Klaten dan Pemerintah Klaten untuk bisa menemukannya dan ada upaya serius untuk melestarikan situs sejarah makam dan tanah Pardikan Ngawonggo bahkan bisa di usulkan menjadi bangunan Cagar budaya yang dilindungi undang-undang.

Melihat situs sejarah makam dan tanah Perdikan Ngawonggo saat ini tidak terawat, terlihat kotor dan disekelilingnya juga banyak rumput liar sangan memprihatinkan.

Penulis

Ki Muhammad Suryo Negoro

Pengasuh Pondok Kader Bangsa Al Hikam Klaten.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *