Tanpa Kesadaran Intekektual Mustshil Lahirkan Negarawan

Oleh : Riadi Ngasiran

Krisis kenegaraan, juga krisis kepemimpinan, di Indonesia disebabkan kelahiran negarawan mengalami hambatan. Hambatan itu disebabkan karena tidak adanya kepemimpinan yang ditopang dengan semangat intelektualisme dalam perjalanan proses sebelumnya.

 

Abdurrahman Wahid, jauh sebelum menjadi presiden, sudah dikenal kemampuannya dalam mengaktualisasikan gagasan menuju masyarakat ideal (demokrasi, kerakyatan, pembelaan terhadap kaum dhuafa dan mereka yang tersisih) yang menjadi kegelisahannya intelektual semasa muda.

Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahrir — bisa ditambah sederet kaum intelejensia generasi awal kita, seperti Tan Malaka (Bapak Intelektual Indonesia) dan Haji Agus Salim (Bapak Intelektual Muslim Indonesia) — tergembleng kegelisahan intelektualnya sejak remaja dan semasa muda. Lihatlah “Renungan Indonesia” Sutan Sjahrir, “Di Bawah Bendera Revolusi” Bung Karno, “Indonesia Merdeka” Moh Hatta, dilahirkan gagasan untuk kemajuan dan perbaikan bangsa dan negaranya di masa-masa mudanya, masa-masa kesuburan intelektualisme di masa sebelum Kemerdekaan. “Madilog” Tan Malaka, memberikan inspirasi pada generasi sesudahnya (saya kira hingga kini) untuk berpikir bebas demi terwujudnya kemajuan suatu bangsa.

Krisis pemikiran dalam persona kepemimpinan di negeri ini, dimulai dengan penyebutan nama Soeharto yang pada ujungnya kediktatoran dan pemberangusan kebebasan sebagai “prestasi”-nya. Juga merajalelanya korupsi-nepotisme-kolusi di bawah rezim Orde Baru.

Setelah Gus Dur, krisis Kenegarawanan makin dikukuhkan. Kenegarawanan yang, tentu saja, ditopang dengan persona yang lahir dari Kaum Intelegensia dan kepekaan intelektual yang memadai. Megawati, berbeda dengan Bung Karno — sang ayah– sama sekali tak menjejakkan karya intelektualnya. Demikian pula Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo. Kalau pun kemudian lahir buku SBY, ya itu bisa memainkan kerja “ghost writer”. Sesuatu yang marak di era generasi sesudah Gus Dur.

Soal inilah yang saya hendak sampaikan kepada generasi santri di era Milenial kini. Membangkitkan kesadaran literasi (bukan sekadar omdo alias omong doang) tapi mewujudkan kegelisahan intelektual itu sejak dini. Ya, sejak dini memerangi sikap dan watak anti-intelektual “Generasi Rebahan” yang telah mabuk oleh media sosial dan setia dengan handphone gan gedget semata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *