Mengenang Nur Habibah. Dosen Universitas Muhamnadiyah Sidoarjo, Calon Doktor Psikologi UGM

Oleh: Tom Mas’udi

Hj.Nur Habibah S.Psi, M.Psi. telah berpulang ke Rahmatullah setelah dirawat di rumah sakit UNAIR pada 17 November 2019 lalu. Akan tetapi kenangan mendalam atas kepergian almarhumah tetap lekat, apalagi bagi suaminya Zainal Abidin (51), dan keempat putera-puteri mereka : Wafdah Layli Rizqiyyah (21) mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Unair, M. Yusril Prawira Negara (20) mahasiswa International University of Africa ( IUA) Sudan, M. Amirul Hakim Al-Abid (10), serta M. Muammar Maqbul Al-Abid (6). ” kami sekeluarga sangat tidak percaya bahwa Ibu akan meninggalkan kami begitu cepat. Bahkan ketika dokter rumah sakit meminta saya untuk menuntunkan ‘Kalimah Thayyibah’ Laa ilaaha illallah kepada Ibu, dalam hati kami yakin bahwa Ibu akan sehat kembali, tetap bersama dan membimbing kami anak-anaknya”, kenang Kiki, nama panggilan Wafdah Layli Rizqiyyah (mantan Bendahara Unit Kegiatan Mahasiswa Tahfidzul Qur’an UNAIR), puteri pertama almarhumah.

Nur Habibah dan Keluarga

Demikian halnya dengan Yusril, putera kedua yang pulang ke Tanah Air dari Sudan, untuk menemani dan menyemangati Ibundanya yang sudah tidak lagi sadarkan diri dan dirawat di ICU. Hanya Ayat-ayat Suci Al Qur’an yang dilantunkannya di dekat Ibundanya hingga beberapa hari menjelang wafat. ” Terakhir kali saya bertelpun dengan Ibu ketika masih di Sudan. Ibu berpesan dan berdoa agar saya dan anak-anaknya ‘jadi orang’ “, kata Yusril yang sudah hafal 30 juz Alqur’an ini.

Nur Habibah bersama Teman seangkatan di program Doktoral Psikologi UGM

 

Kepergian Nur Habibah juga mendapatkan perhatian Rektor UMSIDA, DR. Hidayatulloh. “Kami mengenal bu Habibah sekitar tahun 2012, beliau adalah Dosen dan tenaga struktural yang bersemangat, tekun, dan ulet dalam menjalankan tugas-tugas di dalam kampus maupun di luar kampus.
Beliau juga mempunyai semangat yang sangat tinggi dalam mengembangkan kompetensi dan kualifikasi akademiknya, sehingga beliau bisa diterima kuliah S3 Psikologi di UGM. Beliau memiliki spirit tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas sehingga pimpinan memberikan kepercayaan kepadanya sebagai Kepala Pusat Pelayanan Psikologi Terapan Umsida (P3TU).
Selama berkiprah di UMSIDA beliau juga memperlihatkan sikap dan perilaku yang sangat baik dengan teman-temannya, ringan tangan dalam membantu sahabat-sahabatnya, sehingga tidak sedikit para sahabatnya merasa kehilangan atas meninggalnya beliau. Sejak Beliau sakit para sahabatnya silih berganti datang menjenguk Bu Habibah baik di kediamannya maupun saat di rumah sakit untuk memberikan semangat kepada Bu Habibah dan mendoakan kesembuhannya. Namun takdir Allah SWT. berbicara lain, Allah berkehendak untuk bu Habibah kembali menghadap kepada-Nya untuk selamanya. Oleh karena itu kami merasa kehilangan atas kepergian Beliau dan kami harus mengikhlaskannya, semoga husnul khatimah, semua amal shalihnya diterima oleh Allah, kesalahannya diampuni oleh Allah, dan Almarhumah dimasukkan ke dalam surga-Nya, Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin”, tutur Hidayatulloh.

Kolega Dosen almarhumah pun turut berbela sungkawa. “Kami sudah sekitar delapan tahun bersama sebagai dosen di Fakultas Psikologi UMSIDA. Kami juga bersama melakukan penelitian akademis. Menurut kami Beliau adalah sosok wanita muslimah yang gemar menuntut ilmu. Semangat meningkatkan keilmuannya bisa menjadi teladan bagi anak-anak muda, wa bil khusus putera-puterinya. Beliau sering berbagi informasi terkait kesabaran, ke-Islaman, tentang ke-muslimahan dan kekuatan Muslimah.
Beliau juga adalah inspirasi bagi kami para dosen. Kami bangga, keberadaan Beliau memberikan arti berharga bagi UMSIDA. Kami sangat kehilangan,” ungkap Lely Ika Mariyati S.Psi., M.Psi. dosen Psikologi UMSIDA

Para mahasiswa dan lulusan jurusan Psikologi UMSIDA tak ketinggalan berduyun-duyun bertakziah ke alamat duka di kawasan Jl Pucang Surabaya. Yuri Putra mewakili teman-temanya kelas B-2 angkatan 2014 mengungkapkan, ” Bu Habibah adalah dosen wali kami, orangnya sangat sabar dan telaten. Pernah, ada teman kami bertengkar hingga mengganggu kelas lain, Beliau yang melerai. Namun, meski kami mungkin termasuk ‘ndableg’ ( nakal, red.), tapi kelas kami sempat memberikan kado juara umum Dekan Cup kepada Beliau”.

Yang tak kalah sedihnya adalah teman-teman almarhumah di Fakultas Psikologi UGM, sebagaimana disampaikan oleh Ika Dita Silviandari, Dosen di Universitas Brawijaya Malang, yang bersama Nur Habibah dan tiga mahasiswa lainnya mendapatkan beasiswa BUDI-DN/LPDP.
” ‘Ummi’, begitu kami memanggilnya. Bukan tanpa alasan sebutan itu kami sematkan kepada almarhumah semasa kami kuliah. Kala itu, bulan Agustus tahun 2017 kami bersebelas ( mahasiswa seangkatan), dipertemukan di lantai 5 gedung D di Prodi Doktor Ilmu Psikologi, Fakultas Psikologi UGM. Pertemuan pertama yang sangat berkesan dikarenakan masing-masing dari kami mendapat ‘panggilan sayang’ dari teman-teman lain bwrdasar kesan pertamanya. Begitupun dengan sosok wanita yang penuh keibuan, tenang dan selalu menyunggingkan senyum hangatnya, yakni mbak Nur Habibah.
Bagi kami Ummi Nur Habibah bukan hanya sekedar teman kuliah, Beliau adalah saudara sekaligus Ibu buat kami, yang mampu memberikan tauladan bagi kami tentang arti ketenangan dan keteguhan hati. Pribadi yang pantang menyerah dan pantang mengeluh, sehingga ketika Beliau sakit, kami tetap optimis bahwa Ummi akan sehat seperti sedia kala dan berkumpul dengan kami kembali di lantai 5. Namun Allah SWT berkehendak lain….
Berpulangnya Ummi ke Rahmatullah adalah pukulan berat bagi kami. Kami kehilangan saudara dengan sosok keibuan dan tekun.
Akan tetapi kami sadar, Allah lebih sayang kepadanya,” ujar Ika Dita diamini oleh Maya Fitria, mahasiswi Doktoral dari keluarga Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, beserta teman-teman sekelasnya.

Hari ini, (Ahad 20/01/2020), Yusril putera kedua almarhumah terbang kembali ke Khartoum Sudan melanjutkan studinya. Kiki kakaknya, bersiap untuk wisuda sarjana bulan Maret nanti. Abid dan Muammar anak ketiga dan keempat almarhumah terus bersemangat menghafal Kitabullah sebagaimana kedua kakandanya. Doa anak-anak shalih-shalihah serta kelapangan hati H. Zainal Abidin suami almarhumah, senantiasa menyertainya menghadap Ilahi Rabbi. (*)